10/5/2009
Segera setelah peristiwa gempa Sumatera, Medical Action Team (MAT) dari PMI membangun unit-unit layanan kesehatan di titik lokasi yang sangat memerlukan bantuan medis. Kini telah ada 5 unit yang didirikan di dua wilayah, 2 unit di Padang dan 3 unit di Pariaman Utara, Tengah dan Selatan.
Khusus di Padang, unit layanan kesehatan PMI dibangun tak jauh dari lokasi evakuasi. Satu tenda layanan kesehatan ada di ujung jalan Sisingamangaraja, dan satu tenda lainnya didirikan di Universitas Negeri Padang.
Ditengah kondisi bencana yang minim sarana ini, tim MAT dari PMI berjibaku untuk tetap berikan layanan kesehatan kepada para warga.
“Karena aliran listrik masih padam dan belum ada mesin genset untuk penerangan ruang tenda, layanan kesehatan untuk sementara ini hanya dibuka hingga sore hari,” papar Gusti Sumarsih, Koordinator Pelayanan Kesehatan PMI daerah Sumatera Barat, ketika berhasil dihubungi Minggu sore (4/10) di Pariaman.
Ia juga menambahkan bahwa timnya didukung oleh sekitar 100 orang relawan di lapangan. Mereka adalah relawan yang dimobilisasi oleh PMI di berbagai daerah dan cabang, antara lain dari Sumatera Utara, Riau, Lampung, RS PMI Bogor, dan relawan-relawan lokal.
Dari data sementara hingga Senin siang (5/10) sekitar 700 orang telah mendapatkan layanan kesehatan PMI. Selain melayani pasien di tenda-tenda poliklinik, MAT dari PMI juga melakukan sistem kerja pro aktif.
Ada 30 orang kru layanan kesehatan dari PMI yang menjangkau korban bencana di 7 posko pengungsi. Sedikitnya, 200 orang warga yang tinggal di setiap posko pengungsi telah menerima layanan kesehatan keliling dari PMI sejak Sabtu (3/10). Kegiatan pro aktif ini didukung juga oleh sarana ambulans dari Dinas Kesehatan Pukesmas setempat.
“Kami selalu dapat info tentang lokasi pasien, ya dari warga lainnya di sekitar lokasi pasien. Setelah itu, kami datangi lokasi pasien dan lihat kondisinya. Jika bisa ditangani dan obati di tempat, kami tangani di tempat. Jika lukanya parah dan butuh segera operasi, kami rujuk ke rumah sakit terdekat,” ungkap dr. Edwardsyah, salah satu anggota tim relawan PMI dari RSPMI Bogor yang bertugas di sana dari Sabtu hingga Minggu sore (4/10) di Desa Ampar, Pariaman Selatan.
Teknis “jemput bola” ini dilakukan untuk pasien-pasien yang tak mampu menjangkau posko layanan kesehatan karena sakit/luka yang dideritanya ditambah jaraknya yang jauh dari posko layanan kesehatan.
Dr. Edward yang berprofesi sebagai dokter bedah umum ini juga menuturkan teknis penanganan di lokasi bencana. Setelah luka dibersihkan, pasien juga diberikan obat anti infeksi dan anti tetanus. Menurutnya, banyak pasien yang menderita patah tulang dan luka terbuka akibat tertimpa reruntuhan rumah dan bangunan.
“Selain penanganan luka akibat gempa, kini mulai muncul beberapa kasus penyakit lain diantaranya ISPA dan penyakit kulit,” tambah Gusti.
(Dok.Foto oleh Feby Dwi Rahmadi)
|