Menu

 

A Member Of 

Ketika Bali Gelap Gulita

Siang seperti malam dan gelap pun menyelimuti Bali saat Gunung Agung meletus dan mengeluarkan abu pada Februari 1963. Begitu kenangan Nyoman Sedeng (70 tahun) saat menceritakan pengalamannya saat itu. Ia dan keluarganya menjadi saksi letusan gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu yang tertidur selama 120 tahun lamanya.

“Saat Gunung Agung meletus, Bali berkabut. Gelap sekali seperti malam dan malam seakan sangat panjang,” kata Nyoman yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar.

Read more...

Sinergi PMI dan Masyarakat dalam Siaga Darurat Gunung Agung

Status aktivitas vulkanik Gunung sampai saat ini masih di level IV (Awas) yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak tanggal 22 September yang lalu. Palang Merah Indonesia (PMI) masih melaksanakan aktifitasnya untuk membantu masyarakat terdampak. Berbagai upaya dilakukan PMI Bali dan juga instansi lainnya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat yang mengungsi di berbagai titik pengungsian yang tersebar pada seluruh Kabupaten/Kota di Bali. Beberapa kegiatan yang dilakukan PMI antara lain Evakuasi masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB), dukungan pelaksanaan kegiatan dapur umum (DU), pendataan pengungsi dan lokasi pengungsian, penyediaan air bersih, pembangunan sarana MCK bagi masyarakat terdampak sampai dengan pelayanan dan promosi kesehatan serta dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak.

Seperti operasi PMI yang dilaksanakan pada titik pengungsian Banjar Tenganan Pegringsingan, dimana PMI juga melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan (Promkes), Pelayanan Kesehatan (Yankes), Dukungan Psiko Sosial (PSP), sosialisasi siaga Gunung Agung sampai dengan dukungan Shelter terpadu melalui pembangunan 4 (empat) unit MCK di sekitar lokasi pengungsian. Dan salah satu tantangan yang ada dalam pelaksanaan kegiatan di Desa Tenganan Pegringsingan adalah dimana transportasi hanya sampai pada areal parkir, sedangkan untuk menuju lokasi pengungsian yang berjarak sekitar 300 m hanya bisa diakses melalui motor atau berjalan kaki.

Read more...

Menunggu Saat Kembali Ke Rumah

Dari Desa Tihingan, Bandeng, Kabupaten Karang Asem, Putu Murniasih terpaksa mengungsi ke penampungan di Pasar Manggis, Dusun Tengah. Tihingan terletak pada radius 5 kilometer dari kawah Gunung Agung. Pada mulanya Putu bersama suami suami dan Komang puteranya yang berusia dua tahun tidak mau mengungsi.

Pada 22 September 2017, pukul 20.30, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengumumkan kenaikan status Gunung Agung di Karangasem, Bali, dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV). Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dewa Made Indra mengeluarkan rekomendasi bagi seluruh warga di lereng kaki Gunung Agung untuk tidak beraktivitas di radius 9 Kilometer hingga wilayah sektoral 12 kilometer.

Read more...

Bergandeng Tangan Dalam Penantian

Memasuki Pos 3 Puri Boga, penampungan di Desa Pesaban, tampak anak-anak berlarian bermain. Sebagian besar dari para pengungsi berasal dari Besakih, kawasan paling rawan letusan Gunung Agung. Wayan Aryani (8) dan Ni Kadek Siska (9) ikut mengungsi. Penduduk di Besakih ramai-ramai mengungsi ke tempat yang dianggap aman.

“Saya teman sekelas dengan dia,” Kata Siska menunjuk Aryani. Mereka duduk di kelas 3 SDN 2 Besakih. Sesuai anjuran pemerintah, mereka diterima mengikuti kegiatan belajar mengajar di SDN 2 Pesaban.Sejak ditetapkannya status Gunung Agung menjadi menjadi awas (22/92017), masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III mulai mengungsi. KRB III meliputi kawasan radium 5 kilometer dari kawah Gunung Agung. Masyarakat terdampak menempati pos-pos pengungsian yang telah ditetapkan pemerintah maupun di balai-balai desa, lapangan, maupun di rumah-rumah penduduk.

Read more...

Jadikan PMI Ladang Ibadah

Anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) yang dibentuk PMI dari unsur masyarakat umum, menjadi salah bagian penting penggerak pengurangan risiko bencana di masyarakat. Kiprah tim Sibat yang dibina PMI dengan beberapa programnya, melibatkan aktif Sibat secara langsung dan berkesinambungan.

Najit, salah seorang anggota Sibat Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor, yang aktif berkegiatan meskipun berusia lebih dari 72 tahun. Bapak 5 (lima) anak dan 2 (dua) cucu ini masih lincah dalam setiap kegiatan lapangan. Awal mengenal PMI saat berdagang keliling pada salah satu kegiatan PMI Kabupaten Bogor sekitar tahun 2006.

Read more...

Semua Bisa jadi Penolong

Semakin banyaknya kasus kegawat daruratan baik di rumah tangga, lingkungan kerja maupun di jalan raya mendorong PMI Kota Surakarta untuk terus mensosialisasikan Pertolongan pertama yang benar kepada seluruh elemen masyarakat Kota Surakata, tak terkecuali pada penyandang disabilitas. Menurut Wanto Kasie pelatihan PMI Kota Surakarta, Peserta pelatihan Pertolongan Pertama (PP) untuk disabilitas saat ini adalah mereka penyandang Tuna rungu, pelatihan diadakan satu hari ini Sabtu (12/8).
 
“Kami memang mengadakan secara bergantian setelah minggu lalu tuna netra, hari ini tuna rungu minggu depan kami akan memberikan pelatihan untuk tuna daksa. Jadi kami ingin semua elemen disabilitas mendapat pengetahuan tentang pertolongan pertama, hal ini sejalan dengan program PMI Kota Surakarta tahun 2017 yaitu peduli disabilitas”, tuturnya.
Read more...

Rela Tak Mudik, Sukarelawan PMI Tetap Siaga

Mudik adalah tradisi yang lekat bagi masyarakat Indonesia untuk bersilaturahmi dengan yang terkasih saat momen lebaran. Namun, tradisi ini tak dijalankan oleh sukarelawan PMI. Ya, mereka harus tetap siaga di pos kesehatan demi lancarnya arus mudik dan balik lebaran.

Yudistira, sukarelawan PMI Kabupaten Bogor yang pada Idul Fitri kali ini kembali dipercaya mendapatkan tugas berjaga di pos kesehatan di wilayah kabupaten Bogor.  

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96,  Jakarta 12790 - Indonesia

Telp. +62 021 7992325 Faks. +62 021 7995188  Email: pmi@pmi.or.id