JANGAN MAU MENYERAH DENGAN KEADAAN

PALU, SULTENG – Gempa bumi yang disertai tsunami dan likuifaksi yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 Septemmber 2018 hingga kini kengeriannya masih terus membayang-bayangi hingga kini khususnya para penyintas bencana tersebut.

Bagaimana tidak akibat bencana yang me-luluh-lantak kan Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala ini menyebabkan 2.086 jiwa meninggal dunia dengan rincian Kota Palu sebanyak 1.705 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Sigi 188 orang dan Parigi Moutong 15 orang.

Selain itu, 1.309 orang hilang dan korban luka-luka tercatat sebanyak 4.438 orang serta yang mengungsi sebanyak 206.524 orang.

Seperti yang diceritakan seorang penyintas yang saat ini menjadi pengungsi di Hunian Sementara (Huntara) Silae, Kota Palu yakni Musriadi Safri bagaimana ia menjadi saksi dan korban bencana tsunami di Kota Palu.

Ia menceritakan sebelum terjadi tsunami dirinya sedang beristirahat di sekitar Pantai Talise yang saat itu juga ada acara Palu Nomoni. Sekitar pukul 18.00 WITA tiba-tiba terjadi gempa bumi berkuatan besar (7,4 SR) yang membuat panik masyarakat yang sedang beraktivitas.

Dalam keadaan panik dirinya berusaha menyelamatkan diri dan ternyata saat menoleh ke belakang tsunami mengejarnya dan langsung menggulung tubuh gemuknya namun, berhasil menyelamatkan diri dan duduk di batu besar.

Ternyata gelombang tsunami susulan kembali menghantam tubuhnya hingga terseret ke tengah laut sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar Musriadi hanya bisa pasrah dan terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan yang terbaik. Kejadian di luar nalar manusia terjadi kepada dirinya saat sadar ternyata ia sudah berada di sekitar pelataran batas suci sebuah masjid.

Musriadi baru ingat bahwa yang menyelamatkannya adalahseorang pria berbaju koko, menggunakan sarung kotak-kota dan kopeah. Tapi saat ditanya ke warga tidak pernah melihat orang tersebut dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Dalam kondisi lemas ia mencoba menggerakan kaki sebelah kanannya tetapi, anehnya tidak berasa sama sekali saat dilihat kaki sebelah kanannya hingga sebatas lutut sudah hancur dan mengaharuskan diamputasi.

Terima bantuan kaki palsu

Di tengah kondisinya yang tidak pasti apalagi ia baru mengetahui bahwa rumahnya yang berada di Jalan Poros Donggala-Palu sudah luluh lantah diterjang likuifaksi. Bahkan kesedihannya pun bertambah saat tahu bahwa anak dan istrinya ikut menjadi korban dan hingga sekarang jasadnya tidak diketahui keberadaannya.

Setelah kehilangan segalanya mulai dari keluarga, harta hingga kaki kanannya, Musriadi sempat putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya apalagi sekarang ia hanya sebatang kara tinggal di pengungsian.

Namun, berkat bimbingan dari guru agama dan relawan PMI yang bolak balik ke pengungsiannya untuk menyalurkan bangtuan serta melayani korban bencana akhirnya semangatnya untuk melanjutkan hidupnya kembali terpupuk.

Tidak ingin terus menerus dalam keterpurukan, penyesalan dan kesedihan ia setiap harinya mulai menyibukan diri dengan melakukan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan. Bahkan, dirinya mengaku sebelum menjadi korban tsunami bisa dikatakan ia lupa dengan Allah SWT, ternyata Tuhan masih sayang kepada Masriadi untuk melanjutkan hidupnya dan memperbaiki dirinya.

Meski saat ini ia berjalan dengan hanya satu kaku saja dan dibantu dengan tongkat tetapi, selalu semangat ikut memberikan bantuan untuk korban lainnya yang tingggal bersama di Huntara Silae.

Dengan keiklhasan menerima kenyataan dan ketabahannya, Musriadi terpilih menjadi salah satu penyintas yang mendapatkan bantuan kaki palsu dari Palang Merah Indonesia (PMI).

“Ini rejeki dari Allah SWT sehingga, setelah saya mendapatkan informasi bahwa menerima bantuan kaki palsu maka di huntara saya berlatih karena harus adaptasi lagi. Saya pun tidak menyangka PMI memilih saya untuk mendapatkan kaki palsu dan tentunya akan mempermudah dalam beraktivitas dan bisa mewujudkan cita-cita,” kata Masriadi.

Ia pun mengaku mendapatkan banyak pelajaran dan dari para relawan PMI yang tetap semangat, tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih dalam memberikan bantuan kepada para korban bencana di Sulteng padahal banyak di antara mereka juga merupakan korban.

Tentunya ini menjadi motivasi untuknya agar bisa kembali bangkit dan tidak ingin lagi selalu berharap bantuan dari orang lain. Tetapi, ia ingin ke depannya apalagi sudah lancar menggunakan kaki palsunya tersebut membantu para penyintas khususnya dalam meningkatkan ekonomi.

Dirinya pun sering memberikan semangat kepada rekan-rekannya dipengungsian agar jangan selalu mengandalkan bantuan dari orang lain, namun harus segera bangkit karena jika terus bergelut dengan kesedihan dan masa lalu maka tidak akan beranjak lebih baik.

“Percuma mengeluh tidak akan jadi apa-apa,” ujarnya.

Ingin mendirikan UKM pembuatan batako

Dengan adanya bantuan kaki palsu dari PMI aktivitas Musriadi saat ini lebih mudah bahkan, di huntara ia selalu menjadi pelopor dalam melakukan berbagai kegiatan sosial seperti menyediakan air untuk minum dan kebutuhan rumah tangga pengungsi.

Tapi, ia mempunyai cita-cita ingin membuat usaha pembuatan batako karena dinilai akan cepat berkemban apalagi kebutuhannya saat ini sangat banyak. Idenya tersebut sempat diutarakan ke beberapa orang sebagian ada yang menyangsikan dan ada pula yang memberikan semangat.

Apalagi dirinya yang mempunyai basic sebagai pedagang tentu akan lebih mudah memasarkan produk batakonya karena, sebelum terjadi bencana ia sudah malang melintang di dunia jual beli pangan seperti jagung dan lainya.

“Bencana yang diberikan Allah SWT ini jangan dianggap azab tetapi, sebagai bentuk rasa kasih sayang kepada hamba-Nya agar bisa lebih baik ini. Saya pun mendapatkan pelajaran dan pembelajaran bagaimana arti dari kata sabar yang sesungguhnya,” ucapnya.

Diakhir ceritanya ia berkali-kali mengucap syukur masih bisa diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan dan kepada PMI ia menganggap lembaga ini sebagai motivator untuk bangkit dan melupakan masa lalu.

35

Leave a Reply