KESEHATAN

Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat

Merupakan program PMI yang dilakukan berbasis masyarakat di bidang kesehatan. PPBM dilaksanakan secara terpadu oleh Relawan PMI dan masyarakat serta mendapat dukungan dari pemerintah setempat melalui pelatihan Relawan dan mobilisasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam program ini sangat penting, karena mereka lebih memahami kondisi, kegiatan, dan kehidupan mereka sehari-hari.

Melalui pendekatan “belajar sambil melakukan” (learning by doing), relawan mempromosikan dan menjaga perilaku sehat di masyarakat dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk beradaptasi dan melakukan tindakan nyata.

Tujuan

  • Tujuan umum PPBM adalah meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis masyarakat secara berkelanjutan.
  • Tujuan khusus PPBM adalah penguatan kapasitas PMI di tingkat Pusat/Daerah/Cabang untuk menjamin efektifitas pelaksanaan kegiatan serta keberlanjutan program serta meningkatkan kehidupan dan kemandirian masyarakat melalui promosi kesehatan dan penguatan kapasitas masyarakat berdasarkan pada kebutuhan utama di masyarakat

Kegiatan PPBM

Program PPBM membiasakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat melalui kampanye kesehatan, promosi kesehatan, praktek pertolongan pertama dalam keadaan darurat sehari-hari untuk meningkatkan, baik kebersihan diri maupun kesehatan lingkungan.

  • Mobilisasi masyarakat

Melibatkan relawan dan masyarakat dalam merencanakan dan proses belajar dengan melakukan aksi PPBM

  • Tindakan berbasis kajian dalam masyarakat

Membantu relawan dan masyarakat dalam mengenali dan menanggulangi 5(lima) prioritas masalah kesehatan yang ada, pertolongan pertama dan kesiapsiagaan bencana di masyarakat, sebagai dasar untuk mengembangkan rencana dan tindakan aksi di masyarakat

  • Pertolongan pertama dasar

Membantu relawan dan masyarakat untuk melakukan penilaian awal, perencanaan dan pelaksanaan pertolongan pertama dalam keadaan darurat sehari-hari, serta mengkomunikasikan pesan pencegahan cidera dan penyakit kepada anggota masyarakat

  • Mobilisasi masyarakat dalam keadaan darurat

Membantu menyiapkan relawan dan masyarakat untuk melakukan tindakan jika terjadi bencana atau kejadian luar biasa/pandemi penyakit

  • Pencegahan penyakit dan promosi kesehatan

Dengan melibatkan relawan dan masyarakat untuk mendukung kelompok rumah tangga dan anggota masyarakat dalam mengadopsi perilaku sehat dengan menjalin kemitraan dengan pihak-pihak terkait untuk kesehatan masyarakat

Komponen Promosi Kesehatan

  • Pencegahan
  • Perubahan perilaku
  • Pendidikan
  • Pemberdayaan
  • Perubahan sosial

Pertolongan Pertama & Ambulans

PMI memberikan pertolongan pertama darurat di saat kedaruratan seperti kecelakaan, bencana, maupun konflik. Hal ini penting untuk menyelamatkan kehidupan, mencegah keadaan menjadi lebih buruk, dan mempercepat kesembuhan. Pertolongan pertama darurat menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan PMI saat operasi tanggap darurat.

Sebagai ujung tombak dalam operasi tanggap darurat, relawan PMI diberikan pengetahuan dan skill pertolongan pertama, sehingga cakap dalam memberikan penanganan medis dasar kepada penderita. Dalam memberikan pertolongan pertama, relawan PMI harus memiliki kemampuan dasar, di antaranya menguasai cara meminta bantuan pertolongan, menguasai teknik bantuan hidup dasar (resusitasi jantung paru), dan menguasai teknik menghentikan perdarahan.

Kejadian gawat darurat biasanya berlangsung cepat dan tiba-tiba sehingga sulit diprediksi kapan terjadinya. Langkah terbaik untuk situasi ini adalah waspada dan melakukan upaya kongkrit untuk mengantisipasinya. Salah satunya adalah dengan mengetahui dan mempelajari pertolongan pertama.

Ambulans

Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan, PMI berkomitmen melaksanakan kegiatan di bidang sosial kemanusiaan dengan partisipasi masyarakat relawan sebagai kekuatan organisasi, dan mempunyai kemampuan menanggulangi penderita kecelakaan dan darurat kesehatan, serta membantu mengevakuasinya ke fasilitas kesehatan yang ada. PMI senantiasa mengembangkan kerjasama dengan mitra kerja, baik yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan seperti puskesmas, balai pengobatan, poliklinik, rumah sakit, maupun penyelenggara pelayanan ambulans lainnya. Pelayanan Ambulans adalah salah satu pelayanan kemanusiaan PMI.

Banyak PMI Cabang ingin memiliki fasilitas penunjang keselamatan itu sebagai bentuk pelayanan darurat di bidang kesehatan, jika penderita memerlukan transportasi segera untuk rujukan dari sekitar Markas PMI atau Pos Ambulans PMI, serta digunakan saat aktivitas penanggulangan bencana.

Tim Ambulans PMI, sesuai Standar dalam buku Panduan Pelayanan Ambulans PMI, memiliki kelengkapan persyaratan sertifikat Pertolongan Pertama (PP) minimal 40 jam dan mampu melakukan tindakan PP; berlatar belakang medis (untuk dokter, perawat, dan paramedis yang terdiri dari para relawan PMI); dan telah bergabung dengan PMI Cabang setempat minimal satu tahun serta memahami tentang kepalangmerahan. PMI berharap dengan pertolongan pertama dan evakuasi yang diberikan Pelayanan Ambulans ini kepada penderita untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang ada, resiko cedera parah hingga angka kematian dapat ditekan turun.

Air & Sanitasi

Program Air dan Sanitasi Darurat PMI berawal saat bencana tsunami melanda Aceh dan beberapa kawasan di Samudera Hindia pada 2004.

Saat itu, beberapa palang merah (Perhimpunan Nasional) dari negara sahabat seperti Palang Merah Spanyol, Perancis, dan Jerman turut berkontribusi menangani air bersih untuk para pengungsi dengan menggunakan berbagai peralatan pengolahan air yang mereka miliki.

Setelah operasi berakhir, para Perhimpunan Nasional ini menghibahkan peralatan-peralatan tersebut kepada PMI untuk digunakan dalam penanganan bencana di masa depan.

Sejak 2005, Tim Air dan Sanitasi PMI telah terlibat dalam beberapa operasi penanggulangan bencana seperti gempa Nias 2005, letusan Merapi 2006, banjir Pakistan 2007, gempa Sichuan Cina 2008, gempa Padang 2009, gempa Haiti 2010, banjir Wasior Papua, gempa dan tsunami Mentawai dan letusan Merapi yang terjadi kembali pada 2010.

Untuk mendukung pelayanan air dan sanitasi, PMI mendirikan Pusat Air dan Sanitasi Darurat PMI di Jatinangor Bandung Jawa Barat yang tidak hanya dilengkapi dengan berbagai perlengkapan operasional dan gudang penyimpanan mesin pengolahan air bersih, tetapi juga memiliki relawan yang ahli di bidang air dan sanitasi.

Kapasitas Program Watsan PMI

Saat ini program watsan darurat PMI memiliki berbagai alat water treatment plant (WTP). Dalam kapasitas penuh, tim ini mampu memproduksi lebih dari 2 juta liter air per hari, yang seharusnya cukup untuk memenuhi lebih dari 100.000 orang setiap harinya.

Pelatihan

Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik sekaligus meningkatkan kapasitas tim respon darurat di bidang air dan sanitasi, PMI menggelar pelatihan di bidang air dan sanitasi dalam skala nasional maupun internasional bagi Tim Watsan. Salah satunya dilakukan pada 4-9 April 2011 yang diikuti oleh 13 negara (Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Jepang, Timor Leste, Pakistan dan India).

Psychosocial Support Program (PSP)

Program Dukungan Psikososial (Psychosocial Support Programme/PSP) adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial individu maupun masyarakat agar tetap berfungsi optimal pada saat mengalami krisis dalam situasi bencana maupun kecelakaan. PSP diberikan kepada Kelompok masyarakat target Program dukungan psikososial PMI seperti anak-anak, remaja, dewasa dan lansia, penyandang cacat, pekerja kemanusiaan.

Manfaat Program Dukungan Psikososial

  • Membantu individu untuk mengurangi beban emosinya.
  • Mengembalikan fungsi sosial indvidu di dalam lingkungannya.
  • Mengurangi risiko berkembangnya reaksi normal menjadi reaksi yang tidak normal.
  • Meningkatkan kemampuan individu di dalam pemecahan masalah-masalah yang dihadapii pasca bencana.
  • Membantu para pekerja kemanusiaan untuk mengatasi masalah psikologis yang muncul akibat dari situasi yang dihadapi.

Pelaksanaan Program Dukungan Psikososial PMI tidak dilaksanakan melalui pendekatan individual/konseling, tetapi melalui pendekatan berbasis masyarakat.

HIV & AIDS

Pada akhir tahun 1994, PMI bergabung dengan Gugus Tugas HIV Palang Merah Bulan Sabit Merah Asia/Asian Red Cross and Red Crescent HIV Task Force (ART) bersama dengan anggota Perhimpunan Nasional lain.

Dalam ART, PMI memulai program Pendidikan Remaja Sebaya sebagai titik awal partisipasi dalam usaha mencegah penyebaran HIV dan AIDS antar kelompok-kelompok remaja.

Sejak tahun 2000 PMI telah meluaskan program ke cabang-cabang yang dinilai memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menerapkan program tersebut. Secara bertahap, PMI meningkatkan program intervensi HIV & AIDS sebagai tindak lanjut Deklarasi Jenewa (2001).

Kasus HIV dan AIDS saat ini sudah menjadi pandemi di Indonesia. Data Kementrian Kesehatan, hingga 30 September 2010 diperkirakan jumlah kasus HIV di Indonesia mencapai 330.000. Jika program pencegahan masih terbatas, diperkirakan pada 2020 mendatang, jumlah penderita bisa mencapai 16 juta Saat ini Indonesia adalah satu dari lima besar negara dengan jumlah infeksi HIV di Asia, bersama India, Thailand, Myanmar, dan Nepal. Sehingga tidak bisa dihindari lagi bagi Indonesia untuk menerapkan kesepakatan tingkat Internasional yang diikuti kebijakan nasional.

Kebijakan PMI Menanggulangi HIV dan AIDS di Indonesia

Berpartisipasi aktif dalam penanggulangan HIV & AIDS melalui tiga pendekatan yakni pencegahan, perawatan & dukungan terhadap Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), anti stigma & diskriminasi terhadap ODHA, serta berupaya melibatkan ODHA pada tiap tahapan kegiatan. Berupaya untuk mengembangkan jaringan kerja dengan instansi dan lembaga terkait yang juga terlibat dalam program penanggulangan HIV & AIDS, termasuk dengan jaringan ODHA.

Jenis-Jenis kegiatan penanggulangan HIV sesuai dengan kebijakan PMI adalah:

Pencegahan

  • Pendidikan Sebaya dan Mobilisasi Masyarakat;
  • Pendistribusian KIE untuk kelompok rentan sasaran program;
  • Rujukan untuk Konseling dan Tes Sukarela/ Volunteer Counselling and Testing (VCT);
  • Keterampilan personal, termasuk penggunaan kondom bagi meraka yang melakukan aktivitas bersiko penularan HIV dan IMS.

Perawatan dan Dukungan

  • Membantu memberikan rujukan untuk mendapatkan pengobatan, dukungan dan perawatan bagi ODHA khususnya di rumah;
  • Membuat kelompok dukungan dan jejaring dalam masyarakat atau memperkuat kelompok yang sudah ada;
  • Mengembangkan kelompok dukungan masyarakat dan jejaring ODHA dan kemitraan dengan organisasi ODHA.

Anti Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA

  • Memastikan bahwa PMI memiliki kebijakan HIV lingkungan kerja dan program HIV untuk semua staf dan relawan;
  • Mengintegrasikan isu kesetaraan gender dan kekerasan seksual berbasis gender dalam program / kegiatan PMI;
  • Pendidikan sebaya, mobilisasi masyarakat dan KIE berbasis masyarakat.

Sejauh ini PMI telah banyak mendapatkan dukungan dari Palang Merah Belanda, Palang Merah Jepang dan Palang Merah Australia serta Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC). Di samping itu, beberapa PMI Daerah/Cabang juga menerima bantuan langsung dari lembaga donor lain seperti UNFPA, FHI/ASA dan Komisi AIDS Propinsi serta Pemerintah Daerah.

Operasi Katarak

Mata adalah organ penglihatan yang vital. Seperti organ tubuh lainnya, mata juga membutuhkan perawatan agar tetap sehat dan fungsinya tidak terganggu, karena bila terganggu, harga yang harus dibayar sangat mahal. Gangguan serius pada mata juga dapat menyebabkan kelumpuhan aktivitas sehari-hari.

Angka kebutaan di Indonesia tergolong yang tinggi, yaitu mencapai 1,5% dari jumlah kebutaan yang mencapai 3% dari penduduk dunia. Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah katarak, glukoma, kelainan refraksi dan penyakit lain yang berhubungan dengan degeneratif. Tingginya masalah kesehatan mata yang ada di Indonesia cukup memilukan, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian, komponen yang ada di masyarakat harus bersinergi untuk melakukan penanggulangan.

Untuk dapat berperan serta dalam membantu meringankan beban masyarakat yang rentan secara sosial ekonomi, Palang Merah Indonesia akan terus melaksanakan kegiatan pelayanan sosial yang ditujukan kepada masyarakat paling miskin dan paling rentan, baik pada situasi bencana maupun pada situasi normal.

Dalam mencapai tujuan tersebut, PMI akan melaksanakan program operasi katarak gratis bagi masyarakat yang kurang mampu, dengan harapan melalui kegiatan ini masyarakat miskin dan rentan yang memiliki permasalahan dengan katarak dapat kembali pulih penglihatannya dan dapat melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik lagi. Dalam pelaksanaannya, PMI menjalin kerjasama dengan pihak rumah sakit yang akan melakukan tindakan operasi tersebut, salah satunya seperti yang saat ini sedang berlangsung yakni dengan Rumah Sakit St. Carolus.