KISAH TIM PEMAKAMAN COVID-19 PMI TANAH LAUT

Siaga 24 Jam, Sertakan Keluarga Makamkan Jenazah

Dering telepon membelalakkan mata Muhammad Abdi Nur Iqbal yang sepat di sepertiga malam. Ia bersiap. Panggilan dengan nada dering khusus itu merupakan permintaan menguburkan jenazah covid-19. “Tugas kemanusiaan,” katanya.

“Siap gak siap, harus siap,” tutur relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan tersebut.

Bukan sekali ini Abdi, panggilan akrabnya, menguburkan jenazah covid-19 di waktu yang acak. Jika beruntung, permintaannya datang di pagi, siang atau sore. Kalau pun di waktu gelap, ia dan 10 rekannya tak pernah menolak. Seperti malam itu, mereka menguburkan jenazah covid-19 pada pukul 2.30 dini hari.

Bermula dari Markas, Abdi dan tim memacu mobil jenazah langsung menuju Tempat Pemkakaman Umum (TPU) Angsau di Jalan Simpang Kuburah, Pelaihari. Sambil menunggu kedatangan mobil jenazah, tim memeriksa kembali liang lahad yang sengaja disediakan bagi jenazah covid-19. “1,5 meter tingginya, lalu nanti ditutup dengan tanah setinggi satu meter,” imbuh Abdi.

“Kami juga ikut mendoakan setelah selesai, kalau tidak ada anggota keluarga kami juga mengadzani,” kata Abdi.

Tim Pemakaman ini juga menyilahkan keluarga jenazah ikut membantu proses pemakman, namun dengan syarat mengenakan alat pelindung diri level 3 lengkap. “Kami tawarkan, biasanya ada keluarga yang mau ikut, jadi kami siapkan APD. Kami bimbing dari awal sampai akhir. Kami beritahu protap (prosedur tetap)nya,” kata Ahmad Zahid, Kepala Markas PMI Tanah Laut.

Tim Pemakaman PMI Tanah Laut bergabung dengan tim pemakaman dari Gugus Tugas pemerintah daerah sejak pertengahan Mei. Sebanyak 11 jenazah telah mereka kuburkan hingga kini. Zahid mengatakan, tim ini dibentuk berdasarkan permintaan Gugus Tugas.

“Awalnya kami pernah dapat undangan dari rumah sakit pemerintah untuk mengikuti sosialisasi penanganan jenazah covid-19. Setelah itu ada kasus kematian, ada dua kali ditangani teman-teman rumah sakit. Ada evaluasi, mereka kecapean karena mungkin efek penggunaan APD dan lain-lain. Akhirnya, kami diajak. Kami berlanjut dan sudah di SK-kan,” jelas Zahid.

Zahid bersyukur tidak ada hambatan berarti bagi timnya dalam menjalankan tugas tersebut. Sesekali protes dari keluarga atau warga setempat memang dilayangkan, namun dengan ‘kepala dingin’ hal itu tertangani.

“Kami hadapi dengan kepala dingin. Memang kadang ada yang menyangka prosesnya tidak sesuai tuntunan agama, tapi jelaskan ini sudah sesuai, bahkan kami salatkan dan doakan,” tukasnya.

55

Leave a Reply