MAMAH IZINKAN SAYA BANTU SAUDARA-SAUDARAKU

SIGI – Jumat pagi 28 September 2018 saat itu cuaca cukup cerah aktivitas warga di Jalan Poros Palu Kulawi KM 9, Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Cerahnya pagi hari itu juga dimanfaatkan Putri Riza Shilvia yang merupakan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sigi untuk berbenah rumah seperti mencuci pakaian yangg baru saja digunakan kegiatan Temu Karya Relawan Nusantara (TKRN) PMI di Purwakarta, Jawa Barat.

Masih ingat dibenak Via panggilan akrabnya berkumpul dengan rekan-rekan sesama relawan PMI se-Indonesia mulai dari pengalaman ceria hingga sedih karena saudara-saudaranya yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja diguncang gempa dahsyat bahkan, satu relawannya meninggal dunia saat melakukan aksi kemanusiaan.

Meskipun lelah, ia tetap memilih untuk mencuci pakaian karena hari itu matahari menunjukan kekuasaannya dengan memancarkan sinar yang cukup terik menyengat kulit. Usai membenahi rumah sekitar pukul 11.00 WITA ia memilih untuk tidur siang sambil menunggu waktu Solat Dzuhur tiba.

Tiba-tiba sekitar pukul 14.00 WIB, gadis mungil berambut panjang dan berkulit putih ini terbangun dari lelapnya akibat merasakan guncangan gempa yang cukup terasa getarannya. Gempa tersebut tidak terlalu diindahkannya karena Kabupaten Sigi memang sering terjadi gempa bumi.

Selang dua jam atau sekitar pukul 16.00 WITA gempa susulan terjadi namun, ia, orang tua (mamah) dan adik-adiknya tetap tidak panik hanya keluar rumah saja dan Via pun melanjutkan aktivitasnya usai melakukan Solat Ashar.

Sigi (ANTARA) – Jumat pagi 28 September 2018 saat itu cuaca cukup cerah aktivitas warga di Jalan Poros Palu Kulawi KM 9, Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Cerahnya pagi hari itu juga dimanfaatkan Putri Riza Shilvia yang merupakan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sigi untuk berbenah rumah seperti mencuci pakaian yangg baru saja digunakan kegiatan Temu Karya Relawan Nusantara (TKRN) PMI di Purwakarta, Jawa Barat.

Masih ingat dibenak Via panggilan akrabnya berkumpul dengan rekan-rekan sesama relawan PMI se-Indonesia mulai dari pengalaman ceria hingga sedih karena saudara-saudaranya yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja diguncang gempa dahsyat bahkan, satu relawannya meninggal dunia saat melakukan aksi kemanusiaan.

Meskipun lelah, ia tetap memilih untuk mencuci pakaian karena hari itu matahari menunjukan kekuasaannya dengan memancarkan sinar yang cukup terik menyengat kulit. Usai membenahi rumah sekitar pukul 11.00 WITA ia memilih untuk tidur siang sambil menunggu waktu Solat Dzuhur tiba.

Tiba-tiba sekitar pukul 14.00 WIB, gadis mungil berambut panjang dan berkulit putih ini terbangun dari lelapnya akibat merasakan guncangan gempa yang cukup terasa getarannya. Gempa tersebut tidak terlalu diindahkannya karena Kabupaten Sigi memang sering terjadi gempa bumi.

Selang dua jam atau sekitar pukul 16.00 WITA gempa susulan terjadi namun, ia, orang tua (mamah) dan adik-adiknya tetap tidak panik hanya keluar rumah saja dan Via pun melanjutkan aktivitasnya usai melakukan Solat Ashar.

Namun, saat ia hendak ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu hendak melaksanakan Solat Magrib gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter mengguncang kampungnya bahkan, selain getarannya yang terasa kencang juga durasi cukup lama.

Kondisi pun menjadi panik, Via yang melihat adiknya berada ruang tengah dengan spontan menggendongnya keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Namun, saat hendak keluar rumah ia memilih tiarap bahkan, pintu masuk ke rumah yang terbuat dari kayu hampir merenggut nyawanya beruntung posisi Via yang sedang memeluk adiknya pintu tersebut hampir menimpa bagian kakinya.

Suasana bertambah panik saat listri padam sehingga, kondisi menjadi gelap. Ia pun teringat kedua adiknya yang lain yang sedang mandi dan memberi pakan kambing serta ibunya yang sedang memasak dan mencoba masuk ke rumah untuk mengambuil handphonenya untuk penerangan.

Beruntung, gempa dahsyat itu tidak merenggut keluarganya. Usai gempa berhenti kepanikan bertambah karena tidak jauh dari rumahnya terjadi bencana likuifaksi yang menyebabkan ribuan orang menjadi korban termasuk, tante, kakek, nenek dan sepupunya yang hingga kini jasadnya belum ditemukan.

Via yang melihat sekelilingnya sudah kacau balau mayoritas rumah rata dengan tanah ditambah jerit tangis keluarga dan tetangganya memuat suasana begitu mencekam.

Selain itu, selama satu pekan Via dan keluarganya mengungsi di tenda yang didirikan secara gotong royong di belakang rumahnya. Penderitaannya tidak sampai di situ, anak pertama dari empat bersaudara ini harus mengandalkan pemberian dari orang lain agar bisa makan.

Izin Bertugas

Via yang merupakan seorang relawan lembaga kemanusiaan terbesar di Indonesia pada hari ke-7 pasca gempa memilih untuk bergabung bersama rekan-rekannya yang sedang melaksanakan aksi kemanusiaan membantu para korban gempa bumi dan likuifaksi.

Meskipun awalnya ia tidak diizinkan oleh mamah nya karena kondisi daerahnya dan keluarganya yang carut marut apalagi harus tinggal di pengungsian tidak menyurutkan dirinya untuk tetap berjuang demi kemanusiaan.

Deraian air mata pun membasahi kedua pipi Via dan mamahnya yang masih belum rela melepas anak gadisnya untuk berjuang membantu saudaranya yang tertimpa musibah walaupun ia juga merupakan korban gempa dan likuifaksi.

“Kebulatan tekad saya untuk berjuang bersama rekan-rekan PMI dan relawan lainnya yang menguatkan saya. Meskipun dalam hati menangis tetapi, tenaga dan pikiran saya saat itu sangat dibutuhkan oleh orang yang membutuhkan,” ucap Via.

Tanpa pamrih ia bersama rekannya terjun ke berbagai lokasi bencana gempa bumi untuk ikut memberikan berbagai pelayanan mulai dari evakuasi, pemeriksaan kesehatan, menghibur anak dan warga korban bencana hingga menyalurkan berbagai bantuan.

Selama masa tanggap darurat bencana, setiap harinya ia pulang ke pengungsian selalu larut malam dan hanya bisa melihat adik-adik dan mamahnya yang sedang tertidur pulas. Setiap pulang ia pun selalu menyempatkan diri memandang wajah sang ibu yang telah berjuang sendiri menafkahi ia dan adiknya.

Hari berganti hari dari bulan ke bulan hingga ganti tahun Via tetap mengikhlaskan keringatnya untuk membantu sesama tanpa memikirkan upah setelah apa yang terlah dikerjakannya selama berbulan-bulan.

Tujuan Berjuang

Perjuangan Via menjadi relawan PMI harus diacungi jempol, meskipun dirinya juga merupakan korban bencana gempa bumi dan likuifaksi tetapi, semangat membantu sesama sangat tinggi bahkan harus rela menghabiskan waktunya di lapangan untuk mendistribusikan bantuan bagi korban bencana.

Ia pun membeberkan beberapa tips sebagai relawan agar tetap semangat dalam menjalankan misi kemanusiaan seperti yang pertama harus ikhlas atau tanpa mengharapkan pamrih dan tujuannya harus benar-benar mengabdi dan berjuang.

“Sebagai relawan pejuang kemanusiaan tidak bisa diukur dari berapa banyak yang kamu beri karena perjuangan tidak ada ukurannya,” tegas Via.

Bahkan selama menjalankan tugasnya mendistribusikan bantuan untuk korban bencana tidak sedikit hambatan yang menghalanginya hingga mengancam keselamatan jiwanya. Seperti saat mengirim bantuan ke wilayah Dolo Selatan ia dan rekan-rekannya sempat dihadang warga dengan menggunakan parang agar bantuan itu diturunkan.

Tapi halangan itu tidak menyurutkan dirinya untuk terus berjuang demi kemanusiaan. Dengan semangatnya itu Via sekarang diberikan kepercayaan oleh lembaga yang menaunginya untuk menjadi Staf Sumber Daya Manusia PMI Kabupaten Sigi.

29

Leave a Reply