PERAN SIBAT UNTUK PUTUS MATA RANTAI COVID-19

JAKARTA – Upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 membutuhkan peran banyak pihak. Palang Merah Indonesia (PMI) menggalakkan peran aktif masyarakat melalui gerakan relawan di masyarakat atau yang biasa disebut dengan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT). Informasi pencegahan Covid-19 bakal efektif tersebar melalui relawan binaan PMI ini.

Cuci tangan, jaga jarak aman, diam di rumah atau bermasker saat di luar adalah beberapa anjuran agar masyarakat terhindar dari Covid-19. Namun pesan yang sudah tersebar luas ini belum sepenuhnya diketahui masyarakat. Kelompok masyarakat tertentu memerlukan pendekatan khusus agar menyadari pentingnya anjuran tersebut.

“Di perkotaan kami mengandalkan media sosial, WhatsApp groups, tapi kalau di pedesaan berbeda,” kata Dewi Ariyani, Staf Divisi Kesehatan PMI, Kamis (23/4).

Dewi melanjutkan, berbagai cara penyampaian informasi digunakan agar pesan promosi kesehatan (Promkes) ini dipahami masyarakat. Selain melalui media arus utama, pihaknya juga mengandalkan relawan SIBAT. Pengetahuan mereka terhadap karakteristik lingkungan menjadi nilai lebih.

“Seperti di Boyolali, SIBAT-nya Karang Taruna rajin bersosialisasi, karena dia kenal lingkungannya, tahu karakternya, si A mungkin beda dengan cara mendekati si B, nah itu yang perlu didorong,” lanjutnya.

Tak jarang relawan mengandalkan kreatifitasnya dalam menyampaikan informasi. Menggunakan gerobak berkeliling kampung hingga menggunakan pengeras suara rumah ibadah adalah beberapa di antaranya.

“Banyak contoh, di daerah ada yang keliling kampung pakai mobil, motor, pick up seperti prinsip woro-woro untuk imunisasi. Jadi banyak modifikasi,” katanya. Tapi yang jelas, sambung Dewi, para relawan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Ditambahkan Dewi, kurang pahamnya masyarakat terhadap informasi Covid-19 tak jarang berakibat buruk terhadap lingkungan. Misalnya, ia menyebut, stigmatisasi sosial terhadap warga yang bergejala mirip Covid-19. Akibatnya, warga cenderung mengucilkan alih-alih membantu warganya yang diduga terpapar Covid-19.

“Orang baru batuk sedikit, pilek sedikit sudah disangka covid-19, itu malah bahaya. Akibatnya orang takut dikucilkan atau diusir, kalau dia ternyata adalah mahasiswa ngekos, ngontrak di lingkungan itu jadi dia sembunyikan, itu bahaya stigma sosial,” katanya.

Stigmatisasi sosial tak seharusnya terjadi terhadap pasien atau terduga positif Covid-19. Dewi mengatakan, warga memang dianjurkan untuk melapor bila mengalami gejala corona. Sementara itu, tetangganya yang mengetahui kondisi warga tersebut hendaknya membantu bahkan menyemangatinya agar lekas sembuh.

“Di Bekasi dan Tangerang menurut Dewi sudah ada cerita yang di Komplek perumahan saling membantu warganya yang punya gejala, memastikan warganya yang bergejala mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, memastikan kebutuhannya tercukupi,” jelasnya.

Pemahaman serupa itu dapat digalakkan PMI melalui SIBAT. Dewi meyakini, peran SIBAT juga bakal lebih kuat dengan dukungan tokoh masyarakat.

“Beberapa tokoh seperti Syekh Ali Jaber, Aa Gym itu sudah turun kasih pemahaman ke masyarakat agar diam di rumah, jaga jarak aman, dan kalau ada yang sakit kita tolong pastikan mereka bisa mengakses layanan kesehatan. Kemudian bantu juga kebutuhan pokok mereka,” ujarnya.

Pengoptimalan peran SIBAT terus dimutakhirkan dengan pelatihan jarak jauh. Dewi mengatakan, pihaknya memanfaatkan internet untuk terus berkomunikasi dengan relawan Sibat.

“Kita galakkan via online, tele training, atau webinar dengan SIBAT sebagai pesertanya. SIBAT memiliki potensi karena sebagian juga tergabung dalam gugus tugas. Seperti di NTB, mereka itu di setiap desa sebgaian menjadi bagian dari gugus tugas,” katanya lagi.

Selain menjadi salah satu sumber informasi di lingkungan masyarakat mengenai Covid-19 di Desa/Kelurahan-nya, Sibat juga diharapkan dapat melakukan komunikasi dua arah dengan masyarakat dan mencatat saran, pertanyaan, atau keluhan masyarakat mengenai Covid-19 atau apa yang dibutuhkan masyarakat.***

45

Leave a Reply