RELA TINGGALKAN KELUARGA DEMI TUGAS KEMANUSIAAN

Pandemi Covid-19 masih berlangsung di Indonesia. Berbagai komponen terus dikerahkan dalam percepatan penanganan virus baru corona tersebut, salah satunya komponen relawan. Sedikitnya 300 relawan Palang Merah Indonesia (PMI), termasuk TNI dan Polri bekerja setiap hari dari posko gudang darurat PMI.

Disinfeksi dengan mobil gunner serta penyaluran logistik merupakan beberapa rutinitas relawan posko tersebut. Berminggu bahkan berbulan-bulan mereka menetap di gudang seluas 10 kali 24 meter persegi tersebut. Hal itu dilakukan demi menghindari kontaminasi virus.

Di saat yang lain berkumpul di rumah, para relawan berjibaku memutus mata rantai penularan covid-19 di epicentrum penularan virus, yakni Jakarta. Seperti yang dilakukan Iip Setiawan yang genap sebulan tinggal di posko tersebut, ia ditunjuk meracik cairan disinfektan.

“Saya sudah sebulan lebih, saya belum pulang. Kalau pun pulang kan harus dikarantina lagi. Daripada pulang kita jadi ODP, mending kita membaktikan diri di sini,” katanya.

Relawan PMI Kabupaten Bogor tersebut bertanggungjawab menyediakan dan menyalurkan cairan disinfektan ke puluhan tangki mobil penyemprot (gunner). Iip bersama puluhan relawan lainnya di Tim Depot berhadapan dengan bahan kimia berbahaya setiap hari. Cairan klorin hingga karbol tak jarang membuat nafasnya sesak meski berpakaian pelindung lengkap dengan masker gas.

“Pernah sakit, karena efek bahan kimia, gatal-gatal. Bahkan teman ada yang sesak, batuk. Khawatir banget, makannya kalau sudah merasa gak enak saya minta selesai. Biar ditangani sama yang sehat,” katanya.

Sebagai relawan PMI, terjun di Medan bencana merupakan tugas kemanusiaan. Demikian halnya dengan Iip, dalam kondisi apa pun, Iip yang lebih dari dua tahun menjadi relawan mengaku siap ditugaskan di mana pun.

Setali tiga uang, Adri relawan anggota Tim Gunner juga bekerja dengan resiko. Setiap hari ia berkeliling menyemprotkan cairan disinfektan di jalan protokol Jabodetabek. Upaya memutus wabah covid-19 ini dilakukan Adri dibantu TNI dan Polri.

“Kami dibantu rekan-rekan TNI, kami juga dibantu buka jalur oleh Kepolisian dari Polda. Jadi bagi tugas. TNI sebagai driver, kami operator Gunner,” terangnya.

Resiko terpapar bukan tidak mungkin terjadi, namun bagi Adri, tugas tersebut merupakan panggilan jiwa. Ia harus rela meninggalkan anak dan orangtuanya berbulan-bulan demi memenuhi tugas kemanusiaan itu.

Namun, tidakkah sia-sia upaya Iip dan Adri dalam memutus mata rantai penularan covid-19 bila masyarakat acuh. Ya, keduanya kompak berpesan kepada masyarakat agar menaati kebijakan pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19.

“Saya berharap ini cepat selesai. Masyarakat berusaha di rumah saja kalau tidak terlalu penting jangan keluar, jaga kesehatan, supaya tugas kita juga gak sia-sia, cepat tuntas,” tukas Adri.

77

Leave a Reply